Heinrich Harrer
Dia pernah dihujat sebagai orang yang mempunyai peran bagi
tentara Nazi dengan pangkat Sersan di tibet. Tetapi dia tidak menggubrisnya.
Pendaki gunung ini dilahirkan di propinsi Garinthi, Austria, pada tahun 1912. Tempat ini berada di gugusan
pegunungan Alpen Timur, tepatnya di Yulian Alps,
yang berbatasan dengan Italia dan Hungaria. Kondisi alam inilah yang membentuk
dirinya menjadi seorang atlit yang handal. Selain itu, hidup di pegunungan
Alpen menuntun dirinya untuk memperdalam ilmu geografi di University of Graz
Tahun 1936, berkat kepiawaiannya bermain ski dia berhasil menjadi juara tingkat
nasional di Austria, dan tahun 1937 menjadi juara pada World’s University
Slalom Championships. Tahun 1938, bersama Anderl Heckmair, W. Vorg dan F.
Kasparek, berhasil menuntaskan pemanjatannya di Dinding Utara Gn. Eiger, yang
merupakan dinding tersulit di dunia saat itu dan terbanyak memakan korban jiwa.
Jalur yang dilaluinya itu kemudian dinamakan
Original Route. Tetapi karena waktu itu para pemanjat sedang dilanda
demam dinding utara, maka namanya berganti menjadi Eiger-Nordwand.
Karena ambisinya ingin menjajal pegunungan Himalaya, dia-pun ikut dalam rombongan tentara Nazi, yang kemudian ditahan oleh
pasukan Inggris di daratan India. Berkat keberaniannya, dia berhasil melarikan diri,
untuk kemudian berjalan menyusuri wilayah Utarkasi, India, hingga sampai ke Dinding Diamiral, Nanga Parbat. Petualangannya di Nanga Parbat gagal, sementara perburuan terhadap tahanan perang
masih terus berlangsung. Dia-pun kemudian menyeberang ke Tibet. Selama 7 tahun dia tinggal di negara ini dan
bersahabat dengan Dalai Lama yang saat itu masih anak-anak. Pada saat Tibet diinvasi dan dicaplok oleh China, dia berhasil keluar dari negara itu. Cerita
kehidupannya selama di Tibet, dia tuliskan dalam bukunya yang berjudul “Seven
Years in Tibet” dan kemudian difilmkan dengan judul yang sama.
Sepulang dari Tibet, dia kembali ke negara asalnya, Austria, dan melanjutkan petualangannya hingga ke beberapa
gunung di Amerika Selatan. Tidak banyak orang
Indonesia yang mengetahui bahwa dia adalah pendaki pertama yang
berhasil mencapai puncak Carstenz Pyramida di Papua. 
Di usianya yang makin senja, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk
beristirahat atau melakukan presentasi ke kampus-kampus dan bercerita seputar
dunia petualangan yang pernah dilakoninya di gunung-gunung.
Tahun 1994-1995, dia pernah dihujat sebagai orang yang mempunyai peran bagi
tentara Nazi dengan pangkat Sersan. Tetapi dia tidak menggubrisnya.
Bulan Februari 2006 yang lalu, saat usianya menginjak 93 tahun, dia meninggal
dunia dengan tenang.